Cara Desa Muntuk Menyulap Hutan Jadi Magnit Wisata

Tak disangka, hutan di pinggir desa mereka bakal menjadi magnit wisata yang luar biasa. Soalnya selama bertahun-tahun, hutan pinus itu hanya menyisakan cerita yang meremangkan bulu kuduk saja. Berkat media sosial yang melekat pada setiap orang, hutan yang dulu sunyi sepi itu kini tak pernah lagi sendiri. Seribu orang mendatangi tempat ini setiap hari dan meningkat tajam di hari libur. BUMDesa sedang dalam proses berdiri untuk mendorong desa itu menjadi desa wisata.

Itulah Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta dan obyek wisata hutan itu bernama Becici, sebuah area hutan pinus di area perbukitan yang beberapa sudutnya memberikan bentangan pemandangan alam yang indah menyejukkan mata.“Tak mudah meyakinkan para tetua desa mengenai potensi wisata ini,” kisah Sugandi, salahsatu tokoh pemuda yang turut menyulap Becici menjadi seperti sekarang. Selama bertahun-tehaun warga desa hanya memanfaatkan tanah di bawah tegakan pohon untuk menanam cabe dengan hasil panen yang hanya sekedar ‘mendapat ganti bibit saja’. Hingga Sugandi dan beberapa pemuda desa mulai sadar potensi di hadapan mereka.

“Awalnya kami heran kenapa ada anak-anak muda yang tertarik datang ke hutan ini, ternyata mereka mengagumi keindahan alam dan tempat itu bisa menjadi tempat selfi yang keren,” kata Gandi.  Lalu Gandi Cs berpikir, bagaimana jika sekalian tempat itu dijadikan obyek wisata alam,” katanya.

Para pemuda Desa Muntuk lalu membuat serentetan gambar, mengirimkan melalui jaringan media social Facebook dan Instagram. “Ternyata luar biasa, di bulan kedua setelah kami melakukan itu tempat ini didatangi beberapa kali lipat wisatawan,”ujar Gandi. Para pemuda semakin yakin potensi wisata desanya. “ Kami sedang proses pendirian BUMDesa untuk kemudian menangani secara lebih terstruktur obyek wisata yang miliki

Syaiful, salahsatu pemuda pelopor wisata alam Becici menyatakan, melihat potensi itu dengan cepat Pemerintah Desa Muntuk merespon ide hebat anak-anak muda itu dan segera membangun sarana menggenjot wisata. Toilet di bangun di beberapa titk, jalan setapak dibersihkan, beberapa spot tempat duduk dipasang.  “Semua sarana itu dibuat dengan tanpa merusak lingkungan ini sebagai lingkungan alam,”ujar Syaiful.

Peningkatan jumlah wisatawan itu kemudian menyadarkan generasi tua desa bahwa desa mereka memiliki potensi wisata yang handal. Apalagi kemudian terbukti keramaian wisata membuat banyak pemuda Muntuk tak perlu lagi ke kota mecari pekerjaan. “ Banyaknya wisatawan membuat banyak warga yang mendapat pekerjaan di desa seperti warung makan laris-manis dan menjadi jasa pemandu wisata,” ujar Syaiful.

Kini Muntuk mulai mengembangkan wisata dengan merencanakan kelahiran homestay agar wisatawan bisa menikmati alam pedesaan dan suara desau daun pinus.” Kami ingin wisatawan bisa menginap dan merasakan keindahan desa secara maksimal. Apalagi desa kami adalah pusat kerajinan anyaman bambu turun-temurun dan telah dijual ke berbagai penjuru dunia hingga luar negeri. “ Kami ingin membuat paket menginap di homestay, kami akan sajikan menu masakan, seni pertunjukkan dan sekolah menganyam.  Ke depan BUMDesa kami harapkan akan menjadi pengelola terpadu tempat-tempat potensial ini dan hasilnya bisa mensejahterakan masyarakat,” pungkas Syaiful. Pendeknya, Muntuk sudah sudah sangat siap menjadi desa wisata. (adji)

Foto: http://www.2.bp.blogspot.com

Baca juga: Begini Cara Menyulap Hutan Jadi Tempat Wisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s